Minggu, 24 Maret 2013

Komunikasi Sosial Pembangunan


Teori Komunikasi dalam proses persuasi pembangunan:


1.   Teori Disonansi Kognitif (Theory Of Cognitive Dissonance)
Teori disonantif kognitif merupakan salah satu varian teori konsistensi kognitif. Istilah disonansi kognitifdiambil dari teori yang dikemukakan oleh Leon Festinger, yaitu ketidaksesuaian antara kognisi sebagai aspek sikap dan perilaku yang terjadi pada diri seseorang. Orang yang mengalami disonansi akan berupaya mencari dalih untuk mengulangi disonansi itu. Teori ini banyak beruhubungan dengan sikap, perubahan sikap, dan persuasi.
Semua teori konsistensi dimulai dengan premis yang sama yaitu “semua orang lebih menyukai konsistensi dibandingkan dengan inkonsistensi”. Konsistensi merupakan prinsip utama dalam proses kognitif dan perubahan sikap akibat informasi yang merusak keseimbangan (Littlejohn, 1996). Seringkali seseorang tidak konsisten akan perilakunya sendiri. Contoh, seorang ibu ingin membeli obat pelangsing tubuh di sebuah salon kecantikan, namun setelah mendapatkan informasi secara tidak sengaja ia tersadar bahwa obat tersebut berbahaya bagi kesehatannya. Di sinilah situasi konflik disonansi pada keyakinan dan perilaku, dan ibu tersebut mencari jalan keluar dari konflik tersebut.
Sebagian besar pandangan teori kognitif percaya bahwa manusia memperoleh informasi yang diterima melalui lima tahap:
·       Pertama, sensory input. Pada tahap ini terjadi proses pengindraan terhadap stimulus yang ada di lingkungan. Tidak semua stimulus akan diserap oleh alat indra. Hanya stimulus yang sesuai dengan kebutuhan saja yang masuk dalam proses ini.
·       Kedua, cental processing. Pada tahap ini terjadi proses pemberian makna (presepsi) terhadap informasi yang masuk. Pemberian makna adalah proses yang rumit dan melibatkan banyak faktor internal dan eksternal.
·       Ketiga, information stage. Pada tahap ini terjadi penyimpanan informasi yang masuk ke gudang memori manusia. Ada dua tipe (gudang memori , yakni: memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory).
·       Keempat, information retriveral. Pada tahap ini terjadi pemanggilan kembali informasi yang disimpan dalam gudang memori.
·       Kelima, utilization. Pada tahap ini terjadi proses bagaimana cara kita memanggil dan menginformasikan informasi akan mempengaruhi perilaku nonverbal dan pembicaraan yang akan dilakukan (Greffin, 2003)

2.   Teori Keseimbangan dari Heider
Ruang lingkup teori keseimbangan (balance theory) dari Heider adalah mengenai hubungan-hubungan antarpribadi. Teori ini berusaha menerangkan bagaimana individu sebagai bagian dari struktur sosial (misalnya, sebagai suatu kelompok) cenderung untuk berhubungan satu sama lain. Salah satu bagaimana suatu kelompok dapat berhubungan ialah dengan menjalin suatu komunikasi secara terbuka. Anggota kelompok dapat merumuskan dan menyampaikan pesan-pesan yang dirumuskan oleh anggota kelompok lain. Akan tetapi, teori Heider tidak mencakup komunikasi terbuka semacam ini. Teori Heider memusatkan perhatiannya pada hubungan intrapribadi yang berfungsi sebgai “daya tarik”. Dalam hal ini daya tarik menurut Heider adalah semua keadaan kognitif yang berhubungan dengan perasaan suka dan tidak suka terhadap individu-individu dan objek-objek lain.
Dengan demikian terori Heider iniberkepentingan secara khusus dengan apa yang diartikan sebagai komunikasi intrapribadi, yaitu menaruh perhatian pada keadaan-keadaan intrapribadi tertentu yang mungkin mempengaruhi pola-pola hubungan dalam kelompok. Diluar itu, relevansi teori keseimbangan dari Heider ini tidak dirasakan secara langsung. Meskipun demikian, Heider memberikan penjelasan tentang keseimbangan dalam suatu kelompok. Ahli komunikasi kelompok dapat menemukan keterkaitan erat antara keseimbangan dan tingkah laku komukasi terbuka dari anggota kelompok.
Teori Heider merupakan penjelasan tentang gejala-gejala kelompok. Teori tersebut juga menyediakan beberapa cara yangbermanfaat untuk melihat kelompok yang mempunyai hubungan dengan kejadian intapribadi yang berkaitan dengan dimensi structural dari perasaan suka. Teori ini mungkin juga bermanfaat untuk menerangkan beberapa kejadian komunikasi terbuka di dalam kelompok, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengantingkah laku pesan.

3.   Teori Perbandingan Sosial dari Festinger.
Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan bahwa tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan dari individu untuk membandingkan sikap, pendapat, dan kemampuannya dengan individu lain. Dalam pandangan teori perbandingan sosial, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan jika muncul ketidaksamaan yang berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa. Kalau tingkat pentingnya peristiwa tersebut meningkat, hubungan dalam kelompok (group cohesiveness) juga menunjukan peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung atau membuat mereka lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.
Menurut Festinger, kita cenderung mengarahkan komunikasi kita kepada mereka yang dalam struktur sosial kita diharapkan lebih dekat. Sebagai tambahan catetan, teori perbandingan sosial ini diupauakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami peningkatan atau peniruan (Goldbreg dan Larson, 1985).






Daftar Pustaka    :

Komunikasi Pembangunan (Pendekatan Terpadu), karya Sumadi Dilla
Pengantar, Prof. Deddy Mulyana, M.A, Ph.D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar