Teori Komunikasi dalam
proses persuasi pembangunan:
1. Teori Disonansi Kognitif (Theory Of
Cognitive Dissonance)
Teori disonantif kognitif merupakan salah satu varian teori
konsistensi kognitif. Istilah disonansi kognitifdiambil dari teori yang
dikemukakan oleh Leon Festinger, yaitu ketidaksesuaian antara kognisi sebagai
aspek sikap dan perilaku yang terjadi pada diri seseorang. Orang yang mengalami
disonansi akan berupaya mencari dalih untuk mengulangi disonansi itu. Teori ini
banyak beruhubungan dengan sikap, perubahan sikap, dan persuasi.
Semua teori konsistensi dimulai dengan premis yang sama yaitu
“semua orang lebih menyukai konsistensi dibandingkan dengan inkonsistensi”.
Konsistensi merupakan prinsip utama dalam proses kognitif dan perubahan sikap
akibat informasi yang merusak keseimbangan (Littlejohn, 1996). Seringkali
seseorang tidak konsisten akan perilakunya sendiri. Contoh, seorang ibu ingin
membeli obat pelangsing tubuh di sebuah salon kecantikan, namun setelah
mendapatkan informasi secara tidak sengaja ia tersadar bahwa obat tersebut
berbahaya bagi kesehatannya. Di sinilah situasi konflik disonansi pada
keyakinan dan perilaku, dan ibu tersebut mencari jalan keluar dari konflik
tersebut.
Sebagian besar pandangan teori kognitif percaya bahwa manusia
memperoleh informasi yang diterima melalui lima tahap:
·
Pertama,
sensory input. Pada tahap ini terjadi
proses pengindraan terhadap stimulus yang ada di lingkungan. Tidak semua
stimulus akan diserap oleh alat indra. Hanya stimulus yang sesuai dengan
kebutuhan saja yang masuk dalam proses ini.
·
Kedua,
cental processing. Pada tahap ini
terjadi proses pemberian makna (presepsi) terhadap informasi yang masuk.
Pemberian makna adalah proses yang rumit dan melibatkan banyak faktor internal
dan eksternal.
·
Ketiga,
information stage. Pada tahap ini
terjadi penyimpanan informasi yang masuk ke gudang memori manusia. Ada dua tipe
(gudang memori , yakni: memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory).
·
Keempat,
information retriveral. Pada tahap
ini terjadi pemanggilan kembali informasi yang disimpan dalam gudang memori.
·
Kelima,
utilization. Pada tahap ini terjadi
proses bagaimana cara kita memanggil dan menginformasikan informasi akan
mempengaruhi perilaku nonverbal dan pembicaraan yang akan dilakukan (Greffin,
2003)
2. Teori Keseimbangan dari Heider
Ruang lingkup teori keseimbangan (balance theory) dari Heider adalah mengenai hubungan-hubungan
antarpribadi. Teori ini berusaha menerangkan bagaimana individu sebagai bagian
dari struktur sosial (misalnya, sebagai suatu kelompok) cenderung untuk
berhubungan satu sama lain. Salah satu bagaimana suatu kelompok dapat
berhubungan ialah dengan menjalin suatu komunikasi secara terbuka. Anggota
kelompok dapat merumuskan dan menyampaikan pesan-pesan yang dirumuskan oleh
anggota kelompok lain. Akan tetapi, teori Heider tidak mencakup komunikasi
terbuka semacam ini. Teori Heider memusatkan perhatiannya pada hubungan
intrapribadi yang berfungsi sebgai “daya tarik”. Dalam hal ini daya tarik
menurut Heider adalah semua keadaan kognitif yang berhubungan dengan perasaan
suka dan tidak suka terhadap individu-individu dan objek-objek lain.
Dengan demikian terori Heider iniberkepentingan secara khusus
dengan apa yang diartikan sebagai komunikasi intrapribadi, yaitu menaruh
perhatian pada keadaan-keadaan intrapribadi tertentu yang mungkin mempengaruhi
pola-pola hubungan dalam kelompok. Diluar itu, relevansi teori keseimbangan
dari Heider ini tidak dirasakan secara langsung. Meskipun demikian, Heider
memberikan penjelasan tentang keseimbangan dalam suatu kelompok. Ahli
komunikasi kelompok dapat menemukan keterkaitan erat antara keseimbangan dan
tingkah laku komukasi terbuka dari anggota kelompok.
Teori Heider merupakan penjelasan tentang gejala-gejala
kelompok. Teori tersebut juga menyediakan beberapa cara yangbermanfaat untuk
melihat kelompok yang mempunyai hubungan dengan kejadian intapribadi yang
berkaitan dengan dimensi structural dari perasaan suka. Teori ini mungkin juga
bermanfaat untuk menerangkan beberapa kejadian komunikasi terbuka di dalam
kelompok, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengantingkah laku pesan.
3. Teori Perbandingan Sosial dari Festinger.
Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan bahwa
tindak komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan dari
individu untuk membandingkan sikap, pendapat, dan kemampuannya dengan individu
lain. Dalam pandangan teori perbandingan sosial, tekanan seseorang untuk
berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan jika
muncul ketidaksamaan yang berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa. Kalau
tingkat pentingnya peristiwa tersebut meningkat, hubungan dalam kelompok (group cohesiveness) juga menunjukan
peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota
kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung
atau membuat mereka lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut.
Menurut Festinger, kita cenderung mengarahkan komunikasi kita
kepada mereka yang dalam struktur sosial kita diharapkan lebih dekat. Sebagai
tambahan catetan, teori perbandingan sosial ini diupauakan untuk dapat
menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami
peningkatan atau peniruan (Goldbreg dan Larson, 1985).
Daftar Pustaka :
Komunikasi Pembangunan (Pendekatan Terpadu), karya Sumadi
Dilla
Pengantar, Prof. Deddy Mulyana, M.A, Ph.D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar